Cerita Desember

 

Sebelumnya rasa terimakasih saya haturkan terhadap pihak-pihak yang bersedia membaca coretan pikiran saya. Terimakasih terhadap tokoh yang saya tuju di tulisan ini, namun saya tidak akan menyebut siapa Sang Tokoh karena akan menimbulkan bising-bising yang tidak diharap. Terimakasih untuk kawan saya, Crossita, yang telah menginspirasi penyatuan tulisan ini. Terimakasih kepada Yang Maha Esa atas karunia rasa, hingga bait-bait senantiasa menggeliat di benak tanpa jeda.

Berikut bukan apa-apa. Sekedar mendokumentasi beberapa hasil rasa yang terolah.

Selamat membaca,

Dari saya, untuk yang bersedia membaca.

 

 

Yogyakarta, 2018

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Desember 1, 2018

Jogjakarta. 10:33

Hm.

Ada  sebongkah keras yang mengembang di sana 

Nampaknya, 

Sudahi 

Jalanmu, pilihlah.

 

14:35

Baitmu mengambang dalam ingat

Bersimpuhku padaMu

Duhai,

Bagaimana

Sedang jarum berdetik sekian cepat

Permudahlah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Desember 2, 2018

Jogjakarta, 8:31

Dalam nestapa, tetap berjajar dengan -iya

Sedang tidak mendesak, lingkup bising terdominasi tanpa -iya Hingga riuh angin nampak bersua,  dalam usaha membenar pada nestapa iring dusta~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Desember 3, 2018

Jogjakarta, 08:06

Terkutuk dalam rasa yang kian berkutat

Sembunyi dan bisu

Satu kah?

Dua?

Bahkan tidak sama sekali.

 

 

08:20

Sepersekian detik bait telah berlalu

Mendadak bait baru menggeliat dalam ingat

Hm

Sederet rasa baru menebar

Rasa lama terhapus mulai

Jiwa-jiwa yang rindu belaian muara insan berasal

Membisik merdu, mengharap peluk segera

Kembalilah, Nak.

Tanahmu 'tak lagi sama

Saat pijakmu mulai berlalu

Tetap saja muara berasal paling hangat

Sehangat rindu panas pusat kota

Pun pikir perihal kembali

 

 

 

Yogyakarta,

Selasa, 13 November 2018

Dalam Senin, 03 Desember 2018

16:45

Duhai, sosok istimewa yang kupanggil wanita.

Oh, Nyonya.

Nan jauh di sana. Hati raga tak kunjung satu.

Apa kabar? Baik-baik saja kau ucap.

Benar adanya semoga, membaik lekas Tuhan tampakkan.

 

               

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepucuk Harap

Resolusi Hidup?