Sepucuk Harap

 

Tertera tanggal 21 Juni 2021—satu tahun silam—ada beberapa kekalutan yang kuhadapi. Hingga dipucuk kepasrahan aku menuliskan sesuatu yang kualamatkan kepada Tuhan. Tidak begitu yakin dengan isinya, tapi lumayan meredakan gejolak hati pada waktu itu.

Ada beberapa hal yang (mungkin) tidak bisa kita ceritakan kepada sesama kawan. Satu-satunya harapan adalah Ia, Dzat Maha Mendengar, yang kurasa tidak pernah Ia tidak mendengar keluhku.

Oleh karena itu, kunamai dengan ‘Sepucuk Harap’

 

Ya Tuhanku, Dzat Maha Menghendaki,

Adakah kau sedang mencabut satu nikmatmu?

Nikmat yang tidak ada duanya,

Nikmat menyelam cinta kasih-Mu,

Dengan membaca.

 

Ya Tuhanku, Dzat pembolak-balik hati,

Adakah kau sedang menggoncang hatiku

Meniadakan yang ada

Dan mengadakan yang tiada.

 

Kucoba merengkuh lautan rahmat-Mu

Namun apa daya,

Aku manusia lemah

Yang senantiasa lengah.

 

Kuduakan, tigakan Engkau dengan sengaja

Namun tetap Kau rengkuh aku

Dalam dekap rahmat-Mu.

 

Ya muqollibal qulub,

Tsabbit qalbi alaa dinika wa alaa tha’atik

—zs

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resolusi Hidup?

Cerita Desember