Resolusi Hidup?

 

Eits, tidak terasa 2022 akan tutup lembaran. Konten resolusi di tahun baru bisa dipastikan akan berseliweran di media sosial. Apa kabar resolusimu di tahun lalu, kawan? Akan memperbarui resolusi atau belajar dari resolusi sebelumnya yang belum tercapapai?

Berbicara soal resolusi ada hal menarik yang ingin kutulis. Yaitu berkenaan dengan ‘mencintai diri sendiri dengan memeluknya lebih erat’.

Sebenarnya tulisan ini kudedikasikan untuk diriku sendiri yang tetap berdiri dengan tegap hingga saat ini. Bukan satu hal yang mudah untuk mendamaikan diri sendiri di tengah gempuran quarter life crisis.  Konten tentang quarter life crisis marak diperbincangkan dewasa ini, sehingga hal tersebut tidak lagi asing di kalangan kita. Bukankah begitu?

Melihat fenomena media sosial yang mendarah daging di berbagai usia, tidak menafikan hal tersebut menjadi satu bahan comparing antar pribadi. Tujuan awal media sosial yang memudahkan manusia untuk menyerap informasi, pun membawa dampak negatif yang cukup signifikan bagi kehidupan seseorang. Tidak perlu mengambil contoh jauh-jauh, dari aku sendiri misalnya.

Setelah kuhitung, aku mulai menggunakan sosial media sejak umur 14 tahun. Jika ditotal secara keseluruhan kurang lebih delapan tahun aku erat dengan medsos. Ada kesenangan tersendiri pada saat awal-awal menggunakan sosial media. Misalnya, bisa melihat aktifitas teman yang berada jauh dari kita, memunculkan rasa motivasi dengan pencapaian yang diraih teman atau sekedar bertegur sapa dengan kenalan yang hanya bisa ditemui lewat sosial media.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, melihat pencapaian orang-orang di luar sana menjadi momok besar bagiku. Seperti ada satu bayangan yang mengatakan ‘kamu harus bisa melakukan hal yang sama’. Hingga timbul rasa tidak percaya diri atau lebih parahnya membenci diri sendiri. Hingga aku memutuskan untuk off beberapa sosial media untuk berdamai dengan diri sendiri.

Berkaitan dengan resolusi hidup, memang tidak ada salahnya kita memberi patokan pada hidup agar bisa berjalan secara sistematis. Akan tetapi, pernahkah kita mempertimbangkan kapabilitas diri dalam melampaui hal tersebut? Terkadang kita hanya menuliskan hal-hal besar atau pencaapian besar. Padahal tanpa kita sadari sebenarnya banyak hal-hal kecil dari diri kita yang bisa kita apresiasi.

Ada banyak hal kecil yang bisa kita cantumkan dalam resolusi hidup. Bukankah hal besar tercipta dari hal kecil yang dilakukan secara konsisten?

Sebenarnya tidak menjadi masalah ketika kita mencantumkan hal-hal besar dalam resolusi hidup. Akan tetapi tidak boleh menafikan tindakan untuk lebih mencintai diri sendiri. Bahwa bertahan hidup di tengah gempuran ketidakmampuan kita adalah salah satu pencapaian besar—yang terlihat kecil—yang perlu diapersiasi.

Ada tubuh yang harus kita peluk setiap saat. Ada diri sendiri yang harus lebih rajin diajak berbicara. Ada hal-hal kecil yang kita lewati sehingga kita bisa bertahan sejauh ini. Ada pikiran yang harus kita kontrol agar tidak melukai diri sendiri. Ada hati yang harus kita jaga agar tidak terluka di setiap detiknya. Ada perasaan kita yang harus kita rawat agar tidak menjadi bumerang bagi diri kita sendiri.

Maka, menjadi lebih baik adalah kebutuhan. Akan tetapi menjaga kedamaian diri adalah keharusan. Untuk pejuang quarter life crisis, pundaknya dikuatin lagi ya. Perjalanan kita masih panjang.

Wallahu a’lam,

­--zs

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepucuk Harap

Cerita Desember