Eksistensi Manusia Dalam Wahyu yang Pertama Turun
Al-Qur’an ada tidak hanya sebagai sumber hukum yang utama, melainkan segala sesuatu yang bersanding dengan Al-Qur’an menjadi utama, begitu kalimat Habib Huesin Ja’far dalam bukunya Tuhan Ada di Hatimu. Tidak menutup kemungkinan apa yang merujuk pada Al-Qur’an menjadi utama. Salah satunya disebutkan dalam Surah Al-Baqarah, bahwa fungsi penting Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk dalam segala bidang.
Satu hal yang tidak boleh dilupakan, yakni wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi: bacalah! Apa pelajaran yang dapat manusia ambil dari perintah tersebut? Betul sekali. Korelasi Surah Al-Baqarah dengan wahyu yang pertama turun adalah Al-Qur’an menjunjung tinggi ilmu pengetahuan yang mana ia tidak akan didapat melainkan dengan membaca.
Lantas apa yang manusia dapat dari kegiatan membaca?
Ada cerita menarik dari seorang Ulama yang bernama Habin Abdullah bin Umar bin Yahya. Beliau melangsungkan pernikahan dengan seorang perempuan pada suatu hari. Setelah acara resepsi selesai, kedua mempelai dibawa ke kamar. Akan tetapi, dari setelah isya’ hingga menjelang subuh, beliau tidak melirik istrinya sama sekali dengan berpendapat bahwasannya annahu ahamm min al-‘arus, membaca kitab lebih penting daripada istrinya yang cantik.
Berangkat dari cerita tersebut, penulis meyakini bahwasannya sejak zaman dahulu budaya membaca telah ada dan itu menjadi suatu kebiasaan. Sehingga hal tersebut menjadi satu faktor yang mendorong kemajuan peradaban di zaman dahulu. Dengan begitu, ilmu pengetahuan akan abadi jika manusia tetap eksis melakukan pelanggengan aktifitas membaca.
Akan tetapi, lantas apakah cukup dengan membaca untuk mengikat ilmu pengetahuan? Imam Syafi’i menyatakan bahwasannya: “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang. Setelah itu kamu tinggalkan begitu saja”.
Nah, di sini letak urgensi korelasi antara membaca dan menulis. Seorang pepatah menyatakan: “Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Sedangkan manusia mati meninggalkan karya”. Manusia adalah makhluk fleksibel, dimana eksistensinya akan berubah seiring dengan perubahan status antara ‘hidup’ dan ‘mati’. Semasa hidup, manusia bisa dilihat secara fisik. Akan tetapi ketika mati, cara pandang orang tidak lagi melihat dari segi fisik melainkan karya yang ditinggalkan.
Jadi intinya, Al-Qur’an mendukung penuh adanya penyerapan ilmu pengetahuan padanya yang diikat dengan kegiatan membaca dan menulis. Mengingat hal tersebut adalah suatu kebiasaan yang memang sudah lazim dilakukan di kalangan umat terdahulu. Dengan begitu, tidak salah jika kita manusia modern menganut al-muhafadzatu ala al-qadimi ash-shilihi wa al-akhdzu bi al-jadidi ashlah, mempertahan budaya lama yang baik dan mengambil budaya baru yang lebih baik.
Wallahu a’lam.
Komentar
Posting Komentar