Akhir Dari Perjalanan

 —Rey

Aku tunggu di tempat biasa.

Jam 5 sore, ya.

Jarum jam berhenti tepat di angka empat. Itu berarti masih ada satu jam untuk mempersiapkan diri. Aku baru saja menutup laptopku setelah nada pesan khusus berdering. Nada khusus? Tak perlu bertanya, akan kujelaskan nanti. Yang terpenting sekarang adalah kesiapanku untuk menemuinya kembali.

Aku tipikal orang yang selalu siap di tempat sebelum jam janjian. Belum ada sejarah mencatatan aku datang di akhir. Tapi anehnya, kali ini aku terlambat. Dia lebih dulu duduk dengan tenang di ujung sana.

Hai, sudah lama menunggu? basa-basiku untuk mengurangi kecanggungan.

Tidak. Duduklah.

Seperti biasa, tempat ini selalu ramai saat weekend ataupun weekday. Beberapa orang sekadar menikmati hembusan angin sore atau sebagai zona nyaman untuk mengerjakan tugas. Begitu juga kami, memilih tempat ini agar obrolan kami mengalir dengan damai.

Hari ini adalah tepat minggu ke enam dia menghilang. Dan akhirnya dia menemuiku kembali—seperti sebelumnya.

Oh, iya. Sesuai janji, akan kujelaskan mengapa aku menggunakan nada dering khusus untuknya. Pertama, lihat saja, ia selalu menghilang sesukanya. Kedua, tidak ada tanda-tanda kapan ia akan muncul kembali. Ketiga, ku rasa ini poin penting, aku tidak bisa jika harus berlarut untuk meratapi ketidakhadirannya.

Bagaimana, cukup jelas bukan?

"Ra..."

Suaranya mengintrupsi keheningan. Sorot matanya tajam namun meneduhkan. Rahangnya selalu tegas dan sikapnya selalu santai di setiap keadaan. Aku mencoba menetralkan diri dengan meminum segelas matcha yang sempat kubawa tadi.

"Aku tau kamu gak bakal jadi orang yang mengakhiri cerita ini, bukan kah begitu?"

Ia menghidupkan rokok yang sedari tadi hanya ia mainkan. Sebenarnya ada banyak sumpah serapah yang ingin aku lontarkan, hanya saja mulutku kelu di saat berhadapan dengan dia.

Aku memilih diam sebagai antisipasi agar air mataku tidak turun dengan bebas. Cukup di hari-hari dia menghilang saja air mataku ada, saat ini jangan.

Ada banyak pikiran yang berlalu lalang di pikiranku, begitupun dia. Aku tahu itu. Keheningan menghampiri kami. Tidak ada yang berniat mengeluarkan suara kembali hingga lima menit kemudian.

"Selalu ada variabel yang memungkinkan......"

 Aku tidak ingin ia menyambung kalimatnya, "Cukup! Termasuk variabel kamu datang-pergi sesukamu?

Suara bising orang berlalu-lalang semakin membuat panas hawa di sekitar kami. Kami baru saja bertemu setelah tragedi ia menghilang—yang berulang—datang kembali. Hei, apakah ia tidak merasa bosan dengan melakukan hal yang tersebut berulang?

Minuman di tanganku hampir tandas. Dan rokok yang ia hidupkan masih separuh. Aku rasa aku harus mengakhiri percakap ini segera sebelum rokoknya habis. 

"Life is unfair. I love you with all my heart, but you?". 

Jika hidup adalah perihal teka-teki, haruskah manusia menebak kelanjutan dari setiap cerita? Aku diambang bosan untuk selalu bermain teka-teki dan menunggu kemungkinan apakah ia akan kembali lagi seperti sebelum-sebelumnya.

Aku beranjak pergi meninggalkannya yang sedang menyelesaikan hisapan rokok terakhir. 

"Tidak ingin bertanyakah alasanku mengulang hal yang sama?" 

Aku tetap berjalan meninggalkannya tanpa berniat kembali.

Suaranya terdengar sinis, tapi itu bukan masalah. Seperti ini kah akhir cerita yang kau janjikan?

"Baik, Ra. Sesuai yang kau mau."

Sial. Air mataku mengiringi kalimat terakhirnya. Aku memilih pergi dan berbaur di keramaian. Tapi tetap saja suara tegasnya terdengar nyaring di telinga. 

Monolog milik Adele terdengar di pengeras suara,

Never mind, I'll find someone like you

I wish nothing but the best for you, too

Don't forget me, I beg

I remember you said

Sometimes it lasts in love, but sometimes it hurts instead

Aku tahu akhir dari kita, Rey. Hanya saja aku menebak, siapa yang benar-benar ingin mengakhiri.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepucuk Harap

Resolusi Hidup?

Cerita Desember