Jalan Pencari Ilmu
Setelah melihat hasil tulisan beberapa
kawan saya, saya mulai yakin bahwa kita bisa menuliskan apa saja yang ada di
benak kita. Karena kenangan akan hidup jika disalurkan melalui media—menulis
misalnya.
Pagi tadi saat saya men-scroll media
sosial, saya menjumpai tulisan yang cukup menarik. Dalam foto yang diunggah di
story instagram atas akun @Bangbrew15, saya menangkap satu kalimat yang terngiang
hingga malam ini. 'Dalam perjalanan
mencari ilmu, seseorang harus memiliki teman. Seseorang harus memiliki
lingkungan yang mendukung. Agar bisa menciptakan generasi yang brilian di masa
mendatang'.
Saya sepenuhnya setuju. Dengan menemukan
teman untuk berdiskusi, kita dapat bertukar pikiran dan memungkinkan untuk
membuka cakrawala yang sebelumnya bisa jadi belum kita ketahui. Selain itu,
memberi dampak positif bagi seseorang untuk mengembangkan potensi bicara.
Karena dengan berdiskusi akan tercipta obrolan-obrolan mengalir yang secara
tidak langsung mengajak otak untuk berperan di dalamnya.
Akan tetapi—berangkat dari pengalaman
penulis—tidak jarang orang gagal menemukan teman untuk berdiskusi. Sehingga
ide-ide yang ada sebatas mengambang dalam pikiran sendiri dan memungkinkan akan
hangus ditelan memori lain. Padahal sebagaimana yang disebutkan di awal, jika
menemukan teman untuk berdiskusi seseorang akan menggali dan menemui jalan
pikir lebih luas lagi. Sejalan dengan perintah Al-Qur'an; afalaa ta'qiluuna, afalaa yatadabbaruna, afalaa ta'lamuna. Secara
tidak langsung—menurut hemat penulis—kegiatan berdiskusi telah dilegalkan dalam
pedoman Islam Al-Qur'an.
Yang kedua, memiliki lingkungan yang
mendukung. Tidak jarang seseorag akan terpengaruh dengan temannya. Jika
lingkunan baik, maka secara tidak langsung seseorang akan berlaku baik. Jika
lingkungan buruk, maka ada beberapa tindakan yang barang tentu terkontaminasi
dengan laku buruk juga.
Dalam syair kita Ta'lil Muta'alim
disebutkan :
”Jangan tanyakan siapa
dia
Cukup kau tahu, oh, itu
temannya.
Karena siapapun dia, pasti berwatak seperti temannya.
Apabila
kawannya durhaka, maka singkirkanlah dia serta merta.
Bila
bagus budinya, rangkullah. Berahagialah!”
Sudah jelas, bukan? Maka dari itu,
alangkah baiknya para pencari ilmu memperhatikan dan mempertimbangkan seperti
apa teman dan lingkungannya.
Wallahu a’lam
--zs
Komentar
Posting Komentar