Rumah Roboh

 

Hai, Tuan.

Tidak inginkah mendamaikan hati yang telah lama terporak-porandakan ini?

Oh, aku lupa. Membereskan hati yang hancur dan remuk redam bukan tugas pasangan.

Akan tetapi, Tuan.

Bersediakah kau membantu hati yang kau sebut rumah ini agar kembali kokoh?

Sungguh, rasanya kakiku nyeri berdiri tegap seorang diri di atas hamparan pecahan-pecahan yang menghujam semakin dalam di setiap harinya.

Oh, tidak, Tuan.

Maaf.

Tidak lagi kumerengek kepadamu.

Tidak lagi kubebankan tugas untuk membantu memperbaiki rumah yang semakin roboh.

Ini tugasku.

Karena tidak sepantasnya rumah roboh dihadiahkan untuk penghuni baru.

Bersediakah kau menunggu rumah ini utuk kembali tegap seperti sedia kala, Tuan?

Ah, berat, ya?!

Tidak masalah, Tuan.

Di ujung sana ada rumah yang masih bagus, tanpa goresan.

Kau bisa berteduh dengan nyaman di sana.

Tanpa luka akibat pecahan-pecahan ini.

Selamat berbahagia, Tuan.

 

Yogyakarta,

23 Desember 2022

12.48

                                                                                                  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepucuk Harap

Resolusi Hidup?

Cerita Desember