Postingan

Rumah Roboh

  Hai, Tuan. Tidak inginkah mendamaikan hati yang telah lama terporak-porandakan ini? Oh, aku lupa. Membereskan hati yang hancur dan remuk redam bukan tugas pasangan. Akan tetapi, Tuan. Bersediakah kau membantu hati yang kau sebut rumah ini agar kembali kokoh? Sungguh, rasanya kakiku nyeri berdiri tegap seorang diri di atas hamparan pecahan-pecahan yang menghujam semakin dalam di setiap harinya. Oh, tidak, Tuan. Maaf. Tidak lagi kumerengek kepadamu. Tidak lagi kubebankan tugas untuk membantu memperbaiki rumah yang semakin roboh. Ini tugasku. Karena tidak sepantasnya rumah roboh dihadiahkan untuk penghuni baru. Bersediakah kau menunggu rumah ini utuk kembali tegap seperti sedia kala, Tuan? Ah, berat, ya?! Tidak masalah, Tuan. Di ujung sana ada rumah yang masih bagus, tanpa goresan. Kau bisa berteduh dengan nyaman di sana. Tanpa luka akibat pecahan-pecahan ini. Selamat berbahagia, Tuan.   Yogyakarta, 23 Desember 2022 12.48  ...

Resolusi Hidup?

  Eits, tidak terasa 2022 akan tutup lembaran. Konten resolusi di tahun baru bisa dipastikan akan berseliweran di media sosial. Apa kabar resolusimu di tahun lalu, kawan? Akan memperbarui resolusi atau belajar dari resolusi sebelumnya yang belum tercapapai? Berbicara soal resolusi ada hal menarik yang ingin kutulis. Yaitu berkenaan dengan ‘mencintai diri sendiri dengan memeluknya lebih erat’. Sebenarnya tulisan ini kudedikasikan untuk diriku sendiri yang tetap berdiri dengan tegap hingga saat ini. Bukan satu hal yang mudah untuk mendamaikan diri sendiri di tengah gempuran quarter life crisis .   Konten tentang quarter life crisis marak diperbincangkan dewasa ini, sehingga hal tersebut tidak lagi asing di kalangan kita. Bukankah begitu? Melihat fenomena media sosial yang mendarah daging di berbagai usia, tidak menafikan hal tersebut menjadi satu bahan comparing antar pribadi. Tujuan awal media sosial yang memudahkan manusia untuk menyerap informasi, pun membawa dampak n...

Jalan Pencari Ilmu

    Setelah melihat hasil tulisan beberapa kawan saya, saya mulai yakin bahwa kita bisa menuliskan apa saja yang ada di benak kita. Karena kenangan akan hidup jika disalurkan melalui media—menulis misalnya. Pagi tadi saat saya men-scroll media sosial, saya menjumpai tulisan yang cukup menarik. Dalam foto yang diunggah di story instagram atas akun @Bangbrew15,   saya menangkap satu kalimat yang terngiang hingga malam ini. 'Dalam perjalanan mencari ilmu, seseorang harus memiliki teman. Seseorang harus memiliki lingkungan yang mendukung. Agar bisa menciptakan generasi yang brilian di masa mendatang'.   Saya sepenuhnya setuju. Dengan menemukan teman untuk berdiskusi, kita dapat bertukar pikiran dan memungkinkan untuk membuka cakrawala yang sebelumnya bisa jadi belum kita ketahui. Selain itu, memberi dampak positif bagi seseorang untuk mengembangkan potensi bicara. Karena dengan berdiskusi akan tercipta obrolan-obrolan mengalir yang secara tidak langsung mengajak ot...

Akhir Dari Perjalanan

  —Rey Aku tunggu di tempat biasa. Jam 5 sore, ya. Ja rum jam berhenti tepat di angka empat. I tu berarti masih ada satu jam untuk mempersiapkan diri. Aku baru saja menutup laptopku setelah nada pesan khusus berdering. Nada khusus? Tak perlu bertanya, akan kujelaskan nanti. Yang terpenting sekarang adalah kesiapanku untuk menemuinya kembali. Aku tipikal orang yang selalu siap di tempat sebelum jam janjian. Belum ada sejarah men catatan aku datang di akhir. Tapi anehnya, kali ini aku terlambat. Dia lebih dulu duduk dengan tenang di ujung sana. “ Hai, sudah lama menunggu? ” basa-basiku untuk mengurangi kecanggungan. “ Tidak. Duduklah. ” Seperti biasa, tempat ini selalu ramai saat weekend ataupun weekday. Beberapa orang sekadar menikmati hembusan angin sore atau sebagai zona nyaman untuk mengerjakan tugas. Begitu juga kami, memilih tempat ini agar obrolan kami mengalir dengan damai. Hari ini adalah tepat minggu ke enam dia menghilang. Dan akhirnya dia menemuiku kemba...

Sepucuk Harap

  Tertera tanggal 21 Juni 2021—satu tahun silam—ada beberapa kekalutan yang kuhadapi. Hingga dipucuk kepasrahan aku menuliskan sesuatu yang kualamatkan kepada Tuhan. Tidak begitu yakin dengan isinya, tapi lumayan meredakan gejolak hati pada waktu itu. Ada beberapa hal yang (mungkin) tidak bisa kita ceritakan kepada sesama kawan. Satu-satunya harapan adalah Ia, Dzat Maha Mendengar, yang kurasa tidak pernah Ia tidak mendengar keluhku. Oleh karena itu, kunamai dengan ‘Sepucuk Harap’   Ya Tuhanku, Dzat Maha Menghendaki, Adakah kau sedang mencabut satu nikmatmu? Nikmat yang tidak ada duanya, Nikmat menyelam cinta kasih-Mu, Dengan membaca.   Ya Tuhanku, Dzat pembolak-balik hati, Adakah kau sedang menggoncang hatiku Meniadakan yang ada Dan mengadakan yang tiada.   Kucoba merengkuh lautan rahmat-Mu Namun apa daya, Aku manusia lemah Yang senantiasa lengah.   Kuduakan, tigakan Engkau dengan sengaja Namun tetap Kau rengkuh aku ...

Eksistensi Manusia Dalam Wahyu yang Pertama Turun

  Al-Qur’an ada tidak hanya sebagai sumber hukum yang utama, melainkan segala sesuatu yang bersanding dengan Al-Qur’an menjadi utama, begitu kalimat Habib Huesin Ja’far dalam bukunya Tuhan Ada di Hatimu. Tidak menutup kemungkinan apa yang merujuk pada Al-Qur’an menjadi utama. Salah satunya disebutkan dalam Surah Al-Baqarah, bahwa fungsi penting Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk dalam segala bidang. Satu hal yang tidak boleh dilupakan, yakni wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi: bacalah! Apa pelajaran yang dapat manusia ambil dari perintah tersebut? Betul sekali. Korelasi Surah Al-Baqarah dengan wahyu yang pertama turun adalah Al-Qur’an menjunjung tinggi ilmu pengetahuan yang mana ia tidak akan didapat melainkan dengan membaca.  Lantas apa yang manusia dapat dari kegiatan membaca? Ada cerita menarik dari seorang Ulama yang bernama Habin Abdullah bin Umar bin Yahya. Beliau melangsungkan pernikahan dengan seorang perempuan pada suatu hari. Setelah acara resepsi selesai, kedu...

Cerita Desember

  Sebelumnya rasa terimakasih saya haturkan terhadap pihak-pihak yang bersedia membaca coretan pikiran saya. Terimakasih terhadap tokoh yang saya tuju di tulisan ini, namun saya tidak akan menyebut siapa Sang Tokoh karena akan menimbulkan bising-bising yang tidak diharap. Terimakasih untuk kawan saya, Crossita, yang telah menginspirasi penyatuan tulisan ini. Terimakasih kepada Yang Maha Esa atas karunia rasa, hingga bait-bait senantiasa menggeliat di benak tanpa jeda. Berikut bukan apa-apa. Sekedar mendokumentasi beberapa hasil rasa yang terolah. Selamat membaca, Dari saya, untuk yang bersedia membaca.     Yogyakarta, 2018                                           Desember 1, 2018 Jogjakarta. 10:33 Hm. Ada   sebongkah keras yang mengembang di sana   Nampaknya,   Sudahi   Jalanmu, ...